twitter
rss

Satu huruf C menghiasi daftar nilai saya sampai sekarang. Ya, hanya satu dan saya tak mau (lagi) mencoba untuk mengubahnya. Biarkan saja seperti itu. Biar lebih berwarna dan bervariasi. 

Menyebalkan memang kalau harus mengingat bagaimana sejarahnya saya dapat huruf itu. Saya merasa menjadi mahasiswa yang terdzalimi, karena intelegensi saya hanya dihargai dengan sebuah buku yang tidak saya beli. Terdengar sombong memang, tapi memang seperti itu yang saya rasakan. Saya bisa saja terima dengan lapang dada kalau memang saya tidak mampu melakukan yang terbaik di mata kuliah ini, apalagi ini Mata Kuliah Umum.

Bukan saya merendahkan mata kuliah umum, tapi sebagian besar mata kuliah umum yang jumlah mahasiswanya jauh lebih besar daripada mata kuliah jurusan, seringkali menjadi alasan memberikan penilaian yang tidak maksimal kepada setiap mahasiswanya. Ya, memang pasti sulit untuk mengenali kapasitas mahasiswa satu persatu, tapi setidaknya jangan sampai dosen-dosen yang lain, atau guru-guru yang lain, melakukan hal yang sama dengan salah satu dosen MKU yang telah mendzalimi saya, dan teman-teman yang lain.

Betapa ironis ketika pendidikan dijadikan ladang untuk menggali materi. Memang mungkin bisa dijadikan tempat untuk mencari rizki, tapi ya tidak seperti itu juga caranya. Bisa dibayangkan setelah belajar kurang lebih satu semester, dua minggu menjelang UAS, beliau baru menyebarkan buku karya koleganya yang baru selesai dicetak. Kami di"sarankan" untuk membeli buku itu. Katanya isinya bagus dan sangat cocok untuk dijadikan bahan materi perkuliahan kami. Tapi, waktu kita hanya tinggal 2 minggu saja, buat apa bukunya? Lagi pula, setelah saya baca sedikit punya teman saya, isinya hanya uraian dari slideshow yang diberikan di setiap pertemuan, jadi untuk apa saya beli kalau saya ternyata malah sudah dapat yang lebih ringkas. Selain itu, keperluan saya yang lain yang lebih urgent juga masih banyak, keuangan saya juga pas-pasan. Jadi,tidak bisa membeli semua kebutuhan tersebut sekaligus.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak membelinya. Betapa kagetnya setelah saya baca soal nomor terakhir ketika UAS mata kuliah tersebut berlangsung. Soalnya kurang lebih menyebutkan bahwa saya harus melihat gambar yang tertera di buku "karya koleganya" halaman sekian, menelaahi proses apa yang terjadi, beri komentar!

Hell to the O helloooo..... mau belajar sekeras apapun saya, kalau tidak punya buku itu, saya tetap tak bisa mengerjakannya. Lebih parahnya lagi adalah bahwa soal nomor terakhir tersebut yang poinnya cukup besar. Presentase nilai yang diambil dari nilai UAS pun cukup signifikan sehingga akan sangat mempengaruhi nilai. Buku itu tidak boleh dikopi, beliau bilang, "saya akan tuntut kalian ke meja hijau dengan tuduhan pelanggaran hak cipta, saya bisa menuntut ganti rugi sebesar seratus juta jika saya mau". Wow...amazing!

Dan satu lagi yang sangat menyesakkan, kami tidak diperkenankan meminjam buku tersebut kepada yang lain yang memilikinya. Satu aturan terakhir yang menyiratkan iklan beliau, yaitu kami boleh membuka buku ketika ujian, tapi hanya boleh dari buku "kolega beliau" saja, tidak dari sumber lain, termasuk catatan dan hand-out materi yang telah diberikan. tidak adil bukan? Teman-teman bisa menyimpulkan sendiri maksud dosen itu apa.

Saya tak bisa tingga diam. Ketika UAS berlangsung saya bertanya pada pengawas UAS yang kebetulan dosen mata kuliah itu juga, tapi bukan dosen yang memaksa untuk beli buku. Saya protes, kenapa ada soal semacam itu, padahal mereka pasti tahu, tak semua mahasiswa memiliki buku tersebut. Saya tidak percaya ketika dia menjawab bahwa semua itu diluar kuasanya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan yang terakhir, dia bilang, "jawab aja seadanya".

Oh jadi begitu. kekuasaan dan jabatan mengalahkan semuanya. Saya yakin, bapak itu tahu kalau soal itu nyeleneh, tapi beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, tak ada pilihan lain, saya sembunyi-sembunyi pinjam buku. (berasa jadi pencuri waktu itu). Seharusnya saya tidak melakukannya.

Akhirnya nilai akhir pun keluar sekitar satu atau dua minggu setelahyna. Ternyata, sesuai dugaan, huruf C satu-satunya menghiasi daftar nilai saya. Saya merasa tidak terima. Saya merasa telah melakukan tugas saya dengan baik, ikut perkuliahan tanpa absen satu pun, mengerjakan soal UTS dan UAS dengan baik semampu saya, setidaknya, saya merasa layak untuk dapat nilai B. Sebagian besar teman saya juga demikian, yang mendapatkan A hanya satu di kelas kami, bahkan di kelas lain, sampai tak ada satupun, begitu juga di jurusan lain. Bahkan jurusan lain telah melayangkan surat protes pada pihak jurusan MKU tersebut. Sastra Inggris belum ambil sikap. Dosen wali saya menyarankan untuk menggalang suara mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut untuk melakukan protes. 

Sebelum itu, saya meminta lembar ujian UTS dan UAS ke pihak jurusan tersebut. Saya ingin membuktikan, dan ingin tahu, letak salah saya di mana dan berapa nilai yang saya dapat. Tapi apa jawaban beliau? "kalian boleh meminta lembar ujian kalian, tapi tolong, kami sedang sibuk, kami akan sampaikan nanti, dan satu lagi, hal ini tidak akan mengubah nilai kalian!". Tapi, lembar ujian itu pun tidak kami terima bahkan sampai sekarang. akhirnya kami memutuskan untuk protes.

Saya dengan semangat mengajak teman-teman yang lain. Awalnya mereka mendukung. Saya, dan dua rekan saya mewakili teman-teman sastra Inggris untuk menghadap PD III. kami dimintai nama dan NPM waktu itu, kemudian kami ceritakan semua kronologisnya. Akan tetapi, sayang sekali, menurut beliau, membeli buku merupakan keharusan mahasiswa untuk dijadikan sebagai materi pedamping disamping materi yang diberikan saat perkuliahan. Tapi ini kan beda kasusnya? Di perpustakaan pun buku itu belum bisa dijumpai. Jadi satu-satunya cara ialah MEMBELI BUKU tersebut. Bagaimana dengan mahasiswa yang tidak mampu beli buku? apa mereka berpikir ke arah sana??

Akhirnya, tak ada pilihan lain. saya tidak bisa melanjutkan protes saya. Dukungan teman-teman yang lain pun tidak ada, semua mundur. Akhirnya hanya sampai di situ perjuangan saya dan teman saya. menyedihkan memang, ketika kita harus menyerah dalam suatu permasalahan yang sebenarnya berhak untuk diperjuangkan. Saya tidak mau adik-adik angkatan mengalami hal serupa.

Di Semester Alih Tahun saya mengambil KEMBALI mata kuliah tersebut. Membosankan memang, harus berhadapan dengan dosen yang sama, materi yang sama persis, dan dengan unsur historis yang tidak mengenakan. Saya berusaha singkirkan rasa kesal saya. Saya ingin menyulap huruf C yang menghiasi daftar nilai saya menjadi A atau B. Tapi, memang sudah nasib, huruf C itu masih bertahan sampai sekarang, dan saya tak mau LAGI berusaha untuk MERUBAHNYA. Hal ini cukup jadi bahan cerita untuk anak cucu saya nanti.

Jika sekarang ada komnas anak dan komnas HAM, suatu saat semoga ada komnas untuk mahasiswa, untuk melindungi dan mewadahi aspirasi mahasiswa, khususnya yang terdzalimi seperti saya dan teman-teman saya yang lain. :)
Tapi, mahasiswa yang bagaimana dulu? jangan sampai kita hanya bisa menuntut tanpa bisa membuktikan dan memberikan kontribusi apa-apa. Kalau mahasiswanya leha-leha dan malas, malu untuk diperjuangkannya juga :p.

Akhirnya, saya ingin sampaikan bahwa, jangan sampai, perkulahan, atau KBM di sekolah-sekolah dijadikan ajang untuk menjual buku, mencari peghasilan sampingan, dan sebagainya. Jangan sampai mencoreng nama baik dosen dan guru di Indonesia.

Saya terima nilai saya jelek, dengan alasan, bahwa saya memang benar-benar tidak mampu untuk mendapatkan nilai bagus, bukan karena tidak membeli buku. Yaa, semoga ini hanya prasangka buruk saya, semoga yang sebenarnya tidak demikian, tapi, soal UTS dan UAS yang saya ceritakan tadi menjadi bukti yang cukup menunjukan iklan mereka, bukan?

Mungkin jika beliau membaca tulisan ini dan menyadari bahwa dari awal-akhir saya membicarakan dia, dia mungkin bisa mengajukan saya ke meja hijau, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Wah, sudah seperti selebritis saja saya nantinya. B-)

0 komentar:

Posting Komentar